pulpen1-reaching-hand

Pulpen: Menggapaimu

PULPEN (PUisi Lanjut cerPEN) adalah puisi yang baitnya dijadiin cerpen. dari nama aja uda ketauan plis deh. PULPEN muncul dari ide ide para jomblowan dan jomblowati (ngga semua deng) yang ngebet masuk FSRD suatu Institut yang ada di Bandung itu tuh. jombloers ini gaboet seperti biasa. ga ada yang diapelin. ga ada yang ngapelin (ngga semua deng). jadilah PULPEN. *)

Kemarin aku ingat lagi (Safina)
Tentang kita yang tak mungkin (Nadnaf)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)

WALAU SEMUA TAK HARUS DIPUNGKIRI, malam ini aku harus mengaku. Mengaku tentang perasaan yang kuragukan selama tahunan, hanya untuk melihatnya tumbuh meliar memakanku hidup-hidup. Aku tak hidup untuk diangkatmu tinggi-tinggi lalu dihempas kembali tanpa arti; tapi aku berada dalam sisa luluh lantak bernama penyesalan tentang yang tidak pernah dilakukan.

Dan jika pengakuan ini tidak merubah apa pun, biarkan hatiku terubah untuk memaafkan waktu yang terlambat dan kenyataan yang tidak mungkin.

Katanya, sepasang laki-laki dan perempuan yang bersahabat pasti pernah saling mencintai. Bisa dulu, sekarang, atau pada waktu masa depan.

Aku tidak cukup membaca banyak fiksi untuk percaya ini, tapi aku berkuasa terlalu sedikit atas pikiranku untuk sadar kalau aku berharap kalimat ini adalah benar.

***

pulpen1-reaching-hand

Mencintaimu dulu adalah hal yang kuharap bisa kulakukan. Aku masih berharap Tuhan menyisipkan ingatan dalam memori kita berdua, bahwa kita pernah bertemu pertama kali di sebuah keramaian. Mata kita bertaut dan kita sama-sama mengerti. Mungkin jika ini bisa terjadi lebih awal, kau akan mengenalku disaat aku bukanlah seseorang seperti sekarang. Walau pun kau juga begitu, aku berharap dapat tetap menyukaimu.

Tahunan yang lalu mungkin semuanya lebih mudah dan kau bisa suka padaku, atau sekedar mengikrar janji untuk bertemu di ayunan nanti sore. Mungkin kau bisa makan malam setelah bertengkar tentang jenis film apa yang menarik, drama Korea atau sitkom orang Barat.

Mungkin kita bisa mengalami banyak kejadian pertama bersama, lalu kau mencintaiku dengan perhatian sederhana. Tapi kamu tidak mencintaiku dulu, dan ‘dulu’ adalah partikel yang tidak bisa diubah.

***

Jika aku tak bisa mencintaimu dulu, aku percaya ‘dulu’ akan berlalu menjadi sekarang. Aku ingin menyukaimu sekarang, seluas langit yang selalu ada. Kau hanya harus percaya bahwa cintaku tetap, seperti kau percaya langit biru ada ketika kau di dalam ruangan.

Aku ingin menyukaimu dengan kabur dari rumah saat malam datang, hanya untuk menyaksikan grup musikmu menampilkan lagu-lagu pop pasaran di sebuah kafe. Aku ingin menangis pada teman-temanku karena kau punya pacar yang lebih cantik dariku, lalu tetap berharap malamnya kau akan menghubungiku karena aku ingin berbicara denganmu.

Dan jika aku jatuh tertidur tanpa mendengar suaramu, aku ingin tetap menjadi seseorang yang mencintaimu.

***

Kalau kau tidak bisa belajar untuk mencintaiku sekarang, aku akan menggantung harapku pada masa depan. Lagipula, aku lebih senang bilang kalau aku akan menyukaimu nanti. Ketika masa sekarang sulit untuk dilalui bersama, aku ingin menyukaimu saat kau sudah menjadi kau yang lain lagi.

Mungkin nanti kau akan mencintaiku kembali. Aku ingin tumbuh menyentuh guratan di tanganmu, lalu bertengkar denganmu tentang urusan pekerjaan dan perkara uang. Sore harinya kita akan minum teh di teras karena berjalan-jalan di taman terdengar begitu melelahkan, kemudian bertaruh tentang siapa yang lebih keras mendengkur semalam. Dan aku tetap ingin menyukaimu saat kau mengeluh tentang ekonomi dan berita yang tidak kumengerti.

Bila ‘tidak bisa’ adalah jawabnya, biarkan aku tetap mencintaimu.

***

Gemuruh itu terbit di ufuk hatiku bersama munculnya kenyataan yang menyeruak masuk, seperti tidak tahu aku sudah diranggas oleh penantian kosong dan perjalanan tanpa tujuan bernama jatuh cinta diam-diam.

Aku tidak bisa mencintaimu karena konsep bernama kepantasan serta nilai tentang apa yang dianggap benar.

Hanya partikel di dalam pikiran rasional yang bisa menjelaskan ini semua. Logika? Aku sudah menukar dia dengan waktu lebih lama untuk mencinta dan menunggumu untuk merasakan yang sama.

Waktuku telah habis, aku tidak punya apa-apa lagi untuk meyakinkan bahwa cinta ini mungkin.

Perasaan kita tidak akan jatuh ke dalam kategori ‘benar’, apalagi tumbuh menjadi sesuatu yang aku rasakan. Aku tidak bisa mencintaimu di masa lalu, di masa sekarang, dan aku tidak bisa bermimpi untuk mencintaimu di masa depan.

Karena pada akhirnya, masa depan akan tenggelam lalu merubah nama menjadi masa lalu.

 

*) dicolong dari blog nya Nadnaf dan postingnya yang brilian.

4 comments on “Pulpen: Menggapaimu

  1. Luthfi Ramadhan June 30, 2013 9:59 PM

    Dan jika aku jatuh tertidur tanpa mendengar suaramu, aku ingin tetap menjadi seseorang yang mencintaimu.

    Karena pada akhirnya, masa depan akan tenggelam lalu merubah nama menjadi masa lalu.

    HUFT :'(

  2. pisces23 June 30, 2013 10:44 PM

    “Karena pada akhirnya, masa depan akan tenggelam lalu merubah nama menjadi masa lalu.”

    benar benar bikin sayatan di hati ya buk ya..

  3. muliars~ July 1, 2013 3:18 PM

    Mba… Bikinin blog dong -_-” wkwk

  4. syahid July 1, 2013 3:27 PM

    weiii gue lewat sms deh yaa hahahaa

Leave a Reply