fiction

The Imaginary Flames

You were never something else. You were as boring as stranger silence in the elevator, as ordinary as judging eyes staring at their phones, as common as teenage boys fapping over kissing scenes. Your smile were never wide enough to find its way to infect me, and your eyes were never dark enough to make me push you into the shades. We know that you’re only here to stay the weekend, and I am here because I can’t be anywhere else.

There are no butterflies when our arms brushed each other, only us giggling before linking it together for the rest of the night. We thought touching skin will bring in the emotions we need alongside the inherent need of having someone so close to our breaths. We believed that we’re two rocks longing for flame; that somehow sparks will fly if we kneaded ourselves together enough times. It didn’t work, so we pretend we were warm by the cold air before us.

I taught myself that having you intently looking through my eyes for few seconds is enough, and letting you discover my delicacies before zero them out is what makes me content. I told myself that having someone to want me, no matter how artificial or how short the time span, is the ultimate blessing I therefore should feel complete in which nothing else does matter. I thought if I believe on this hard enough, blood will somehow wash through my pale feet, and I will be fine.

But when we stopped talking and ran out things to keep us numb, the frost kissed everything away beside our still shadows reflected by the moon; sad and separated by sharp lining that seems wide enough to cover the hollow we have in our hearts.

I taught myself to release my nerves from the pain it still felt even after too many times hearing the door slammed. I learned to close my eyes tightly to endure the eerie emptiness two seconds after you leave me to the dull. I taught myself that I want no more than to be wanted like it’s a duty and then left like I’m a done paperwork.

And when I open my heavy eyelids to the darkness I don’t plan to escape from, I told myself that I made it. That I was filled. I told myself that I was happy, and now it’s fine to let out a cry. I always know the void within will be empty all once more when you pull yourself from me, anyway.

What I don’t know is that the hollow in me was never filled no matter how hard I tried.

Photo credit: defi-nation on Deviantart

pulpen-2

Pulpen: Mencari Atlantis

PULPEN (PUisi Lanjut cerPEN) kali ini agak nyerong dari seri kemaren, karena minggu ini yang dijadikan cerpen adalah sebuah lagu, bukan puisi. Selain itu, minggu ini juga kita kedatengan beberapa teman baru yang mau ikutan. Lagunya pun bukan sembarang lagu, karena pujangga-pujangga galau pengumuman ini memutuskan untuk memakai lagu dangdutnya Meggy Z, Jatuh Bangun. Puitis abis emang.

Jatuh bangun aku mengejarmu
Namun dirimu tak mau mengerti (Bia)
Kubawakan segenggam cinta
Namun kau meminta diriku
Membawakan bulan ke pangkuanmu (Frida)

jatuh bangun aku mencintai
namun dirimu tak mau mengerti (Luthfi)
kutawarkan segelas air
namun kau meminta lautan (Nadnaf)
tak sanggup diriku sungguh tak sanggup

sudah tahu luka di dalam dadaku
sengaja kau siram dengan air garam (Sarah)
kejamnya sikapmu membakar hatiku
sehingga cintaku berubah haluan (Stella)

percuma saja berlayar
kalau kau takut gelombang (Kia)
percuma saja bercinta
kalau kau takut sengsara (Syahid)

KEJAMNYA SIKAPMU MEMBAKAR HATIKU SEHINGGA CINTAKU BERUBAH HALUAN. Daripada hati gue dibakar, diinjek-injek, lalu ditiup ke ketiadaan, mending gue ajak dia berlayar mengarungi lautan. Kayanya mencari Atlantis jauh lebih mungkin daripada nungguin lo suka sama gue, yang emang enggak mungkin aja.

Continue reading

pulpen1-reaching-hand

Pulpen: Menggapaimu

PULPEN (PUisi Lanjut cerPEN) adalah puisi yang baitnya dijadiin cerpen. dari nama aja uda ketauan plis deh. PULPEN muncul dari ide ide para jomblowan dan jomblowati (ngga semua deng) yang ngebet masuk FSRD suatu Institut yang ada di Bandung itu tuh. jombloers ini gaboet seperti biasa. ga ada yang diapelin. ga ada yang ngapelin (ngga semua deng). jadilah PULPEN. *)

Kemarin aku ingat lagi (Safina)
Tentang kita yang tak mungkin (Nadnaf)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)

WALAU SEMUA TAK HARUS DIPUNGKIRI, malam ini aku harus mengaku. Mengaku tentang perasaan yang kuragukan selama tahunan, hanya untuk melihatnya tumbuh meliar memakanku hidup-hidup. Aku tak hidup untuk diangkatmu tinggi-tinggi lalu dihempas kembali tanpa arti; tapi aku berada dalam sisa luluh lantak bernama penyesalan tentang yang tidak pernah dilakukan.

Dan jika pengakuan ini tidak merubah apa pun, biarkan hatiku terubah untuk memaafkan waktu yang terlambat dan kenyataan yang tidak mungkin.

Continue reading