love

They do

I have liked written words since I first remember it — or maybe since I realized that spoken words evaporate to carbon dioxide leaving nothing but unaccountable testimony.

Words move like travelers treating me like a little child before their grandpas. Telling heroic episodes enthusiastically while smelling like old cigarettes. They mix nonsense with delusion to pierce minds and collect fears. Words are made to succumb people like quicksand, leaving them crawling helpless until they understand that they’re attending their own funerals.

Continue reading

pulpen-2

Pulpen: Mencari Atlantis

PULPEN (PUisi Lanjut cerPEN) kali ini agak nyerong dari seri kemaren, karena minggu ini yang dijadikan cerpen adalah sebuah lagu, bukan puisi. Selain itu, minggu ini juga kita kedatengan beberapa teman baru yang mau ikutan. Lagunya pun bukan sembarang lagu, karena pujangga-pujangga galau pengumuman ini memutuskan untuk memakai lagu dangdutnya Meggy Z, Jatuh Bangun. Puitis abis emang.

Jatuh bangun aku mengejarmu
Namun dirimu tak mau mengerti (Bia)
Kubawakan segenggam cinta
Namun kau meminta diriku
Membawakan bulan ke pangkuanmu (Frida)

jatuh bangun aku mencintai
namun dirimu tak mau mengerti (Luthfi)
kutawarkan segelas air
namun kau meminta lautan (Nadnaf)
tak sanggup diriku sungguh tak sanggup

sudah tahu luka di dalam dadaku
sengaja kau siram dengan air garam (Sarah)
kejamnya sikapmu membakar hatiku
sehingga cintaku berubah haluan (Stella)

percuma saja berlayar
kalau kau takut gelombang (Kia)
percuma saja bercinta
kalau kau takut sengsara (Syahid)

KEJAMNYA SIKAPMU MEMBAKAR HATIKU SEHINGGA CINTAKU BERUBAH HALUAN. Daripada hati gue dibakar, diinjek-injek, lalu ditiup ke ketiadaan, mending gue ajak dia berlayar mengarungi lautan. Kayanya mencari Atlantis jauh lebih mungkin daripada nungguin lo suka sama gue, yang emang enggak mungkin aja.

Continue reading

pulpen1-reaching-hand

Pulpen: Menggapaimu

PULPEN (PUisi Lanjut cerPEN) adalah puisi yang baitnya dijadiin cerpen. dari nama aja uda ketauan plis deh. PULPEN muncul dari ide ide para jomblowan dan jomblowati (ngga semua deng) yang ngebet masuk FSRD suatu Institut yang ada di Bandung itu tuh. jombloers ini gaboet seperti biasa. ga ada yang diapelin. ga ada yang ngapelin (ngga semua deng). jadilah PULPEN. *)

Kemarin aku ingat lagi (Safina)
Tentang kita yang tak mungkin (Nadnaf)
Walau semua tak harus dipungkiri (Stella)
Bahwa aku masih ingin hadirmu disini (Luthfi)
Kutapaki jejakmu ditelan sepi (Frida)
Saat aku bilang ‘ya’, dan kamu teriak ‘tidak’ (Kia)

WALAU SEMUA TAK HARUS DIPUNGKIRI, malam ini aku harus mengaku. Mengaku tentang perasaan yang kuragukan selama tahunan, hanya untuk melihatnya tumbuh meliar memakanku hidup-hidup. Aku tak hidup untuk diangkatmu tinggi-tinggi lalu dihempas kembali tanpa arti; tapi aku berada dalam sisa luluh lantak bernama penyesalan tentang yang tidak pernah dilakukan.

Dan jika pengakuan ini tidak merubah apa pun, biarkan hatiku terubah untuk memaafkan waktu yang terlambat dan kenyataan yang tidak mungkin.

Continue reading